BAB I
LANDASAN TEORITIS
I. KONSEP
DASAR
a.
Defenisi
Diare
adalah suatu keadaan bertambahnya kekerapan dan keenceran buang air besar.
(Soeparman dan Sarwono
Waspadji, Ilmu Penyakit Dalam, jilid
II,FKUI Jakarta 1998, hal. 163 )
Diare
adalah kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang abnormal lebih dari tiga
kali sehari,serta perubahan dalam isi lebih dari 200 gr / hari dan
konsistensinya cair.
(Brunner dan Suddarth, Keperawatan MediKal Bedah, edisi 8,
vol. 2, Jakarta,
EGC, 2002, hal. 1093).
Diare
kronik adalah suatu diare yang berlangsung lebih dari tiga minggu,ini berlaku
pada orang dewasa dan pada bayi dan anak di tetapkan batas waktu dua minggu.
(Arif Mansjoer, Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3,
Jilid I, FKUI Jakarta, 2001, hal. 504)
Diare
kronik di bagi atas tiga bagian yaitu :
1.
Diare
osmotik
Adanya faktor malabsorpsi akibat
adanya gangguan absorpsi karbohindrat,lemak atau protein dan tersering adalah
malabsorpsi lemak sehinngga feses berbentuk steatore.
2. Diare sekretorik
Adanya gangguan transport akibat adanya
perbedaan osmotic intralumen dengan mukosa yang besar sehinnga terjadi
penarikan cairan dan elektrolit kedalam lumen usus dalam jumlah besar.
3.
Diare
inflamasi
Adanya kerusakan dan kematian
enterosit disertai peradangan.
Diare
inflamasi ini terbagi dua yaitu :
a.
Inflamasi
non spesifik
Seperti : colitis
ulseratif dan penyakit crohn.
b.
Inflamasi
spesifik
Seperti :
diare dengan perdarahan.
(Arif Mansjoer, Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3,
Jilid 1, FKUI Jakarta, 2001, hal. 505 ).
b.
Etiologi
1. Pengurangan
atau penghambatan ion-ion dan perangsangan dan sekresi aktif ion-ion pada usus.
2. Terdapatnya zat yang sukar diabsorsbsi atau
cairan dengan tekanan osmatik yang tinggi pada usus.
3. P erubahan pergerakan dinding usus.
4. Bakteri ( shigella, satmonella, plesiomonal,
aromonas ).
5. Protozoa ( entamoeba histolythica, balantidium
coli )
6. Virus ( Cytomegalovirus )
7. Cacing ( Schistosoma, trichuris trichlura ).
c
. Anatomi fisiologi
Gaster ( Lambung)
Gaster
merupakan bagian dari saluran yang dapat mengembang paling banyak terutama di
daerah epigaster, lambung terdiri dari bagian atas fundus uteri berhubngan
dengan esophagus melalui orifisium
pilorik yang terletak dibawah diafragma di depan pancreas dan limpa, menempel
di sebelah kiri fundus uteri.
Bagian
lambung terdiri dari :
1.
Fundus
ventrikuli
2.
Korpus
ventrikuli
3.
Antrum
pylorus
4.
Kurvatura
minor
5.
Kurvatura
mayor
6.
Osteum
kardiakum.
Susunan lapisan lambung dari dalam keluar
terdiri dari :
1.
Lapisan
selaput lendir yang berlipat-lipat disebut Rugae
2.
Muskulus
aurikularis (lapisan otot melingkar)
3.
Muskulus
obligus (lapisan otot miring)
4.
Muskulus
longitudinal (lapisan otot panjang)
5.
Peritoneum
(lapisan jaringan ikat/serosa)
Intestinum minor / usus halus
Intestinum minor adalah bagian dari sistim
pencernaan makanan yang berpangkal pada pylorus dan berakhir pada
seikum,panjangnya kurang lebih 6 meter. Ini merupakan saluran paling panjang tempat
proses pencernaan dan absorpsi hasil pencernaan yang terdiri dari :
-
Lapisan
usus halus/lapisan mukosa (sebelah dalam)
-
Lapisan
otot melingkar (muskulus sirkuler)
-
Lapisan
otot memanjang (muskulus longitudinal)
-
Lapisan
serosa (sebelah luar)
Duodenum disebut juga usus dua belas jari
panjangnya kurang lebih 25 cm berbentuk sepatu kuda melengkung ke kiri pada lengkungan ini terdapat pankreas ,
bagian kanan duodenum terdapat selaput lendir yang membukit disebut papila
vateri, dan papilla vateri ini bermuara pada saluran empedu (duktus koledokus)
dan saluran pankreas (duktus wirsungi / duktus pankreatikus). Dinding duodenum
mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar disebut kelenjar
brunner, yang berfungsi untuk memproduksi getah intestinum.
Yeyunum dan ileum panjangnya sekitar
kurang lebih 6 meter, dua perlima bagian atas adalah yeyunum dengan panjang
kurang lebih 23 meter dan ileum panjangnya kurang lebih 4 – 5 meter. Lekukan
yeyunum dan ileum melekat pada dinding abdomen posterior dengan perantaraan
lipatan peritoneum yang berbentuk kipas yang disebut mesenterum. Ujung bawah
ileum berhubungan dengan seikum dengan perantaraan lubang yang bernama
orifisium ileoseikalis dan pada bagian ini terdapat katup valvula seikalis atau
valvula baukhini yang berfungsi untuk mencegah cairan dalam colon asendens
tidak masuk kembali kedalam ileum.
Absorpsi
makanan yang sudah dicernakan seluruhnya berlangsung didalam usus halus melalui
2 saluran yaitu :
-
pembuluh
kapiler dalam darah
-
saluran
limfe disebelah dalam permukaan vili usus
Karena vili
keluar dari dinding usus maka bersentuhan dengan makanan cair dan lemak yang
diabsorpsi kedalam lacteal kemudian benjolan melalui pembuluh limfe masuk
kedalam pembuluh kapiler darah di vili dan oleh vena porta dibawah ke hati
untuk mengalami beberapa perubahan.
Intestinum
mayor / usus besar
Usus besar mempunyai panjang kurang
lebih 1,5 m dan lebar 5 – 6 cm. Lapisan – lapisan usus besar dari dalam keluar
yaitu :
1.
Selaput
lendir
2.
Lapisan
otot melingkar
3.
Lapisan
otot memanjang
4.
Jaringan
ikat
Fungsi usus besar adalah :
1.
Menyerap
air dari makanan
2.
Tempat
tinggal bakteri coli
3.
Tempat
faeses
Seikum dibawah ini terdapat apendiks
panjangnya 6 cm. Kolon asendens panjangnya 13 cm, terletak dibawah abdomen
sebelah kanan membujur ke atas dari ileum ke bawah hati. Dibawah hati
melengkung ke kiri yang disebut fleksura hepatica, dilanjutkan kolon
transversum. Apendiks tergantung menyilang pada linea terminalis masuk kedalam
rongga pelvis minor terlentak horizontal dibelakang seikum. Kolon transversum
panjangnya ± 38 cm membujur dari kolon asendens
sampai pada kolon desendens berada dibawah abdomen sebelah kanan terdapat
fleksura hepatica dan sebelah kiri terdapat fleksura linealis.
Kolon desendens panjangnya ± 25 cm dibawah
abdomen bagian kiri membujur dari atas kebawah dari fleksura linealis sampai ke
depan ileum kir bersambung dengan kolon desendens terletak miring dalam rongga
pelvis sebelah kiri bentuknya menyerupai huruf S. ujung bawahnya berhubungan
dengan rectum.
Rectum
dibawah kolon sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor dengan anus terletak
didepan os sacrum dan os koksigis.
Anus bagian
dari saluran pencernaan yang menghubungkan rectum dengan dunia luar.
Dindingnya diperkuat oleh 3 sfingter :
a.
Sfingter
ani internus sebelah atas yang bekerja tidak menurut kehendak
b.
Sfingter
levator ani bekerja tidak menurut kehendak
c.
Sfingter
ani ekstenus bekerja menurut kehendak.
( Drs. H.
Syaifuddin, B.Ac. Anatomi Fisiologi,
Edisi 2, Jakarta
EGC. 1997. Hal. 77-80 ).
d. Patofisiologi
Proses terjadinya diare dipengaruhi oleh dua hal pokok yaitu :
Konsistensi faeses dan
motilitas usus, umumnya terjadi akibat pengaruh keduanya. Gangguan proses
mekanik dan enzimatik, disertai gangguan mukosa, akan mempengaruhi pertukaran
air dan elektrolit sehingga mempengaruhi konsistensi feses yang terbentuk.
Peristaltic saluran cerna yang teratur akan mengakibatkan proses cerna secara
enzimatik berjalan baik. Sedangkan peningkatan matilitas berakibat
tergantungnya proses cerna secara enzimaitk yang akan mempengaruhi pola
defekasi.
( Arif Mansjoer, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3 Jilid
1, FKUI Jakarta 2001, Hal. 505 ).
e.
Manifestasi klinis
Ø
Frekuensi
defekasi meningkat bersamaan dengan meningkatnya kandungan cairan faeses.
Ø
Sakit
perut / kram perut, distensi.
Ø
Gemuruh
usus ( borborigimus ) mulas
Ø
Anoreksia
dan haus
Ø
Sfasmodik
yang nyeri dan peregangan yang tidak spesifik
Ø
Lemah,
faeses yang berair karakteristik dari penyakit usus halus dan faeses semi padat
sering dihubungakan pada penyakit kolon.
Ø
Bila
ada mucus dan pus dalam faeses menunjukkan enteritis inflamasi atau colitis.
f.
Komplikasi
Komplikasi diare kronis mencakup :
Ø
Hipotensi
Ø
Anoreksia
Ø
Kehilangan
kalium
Ø
Pengeluaran
urin kurang dari 30 ml / jam selama 2-3 jam berturut-turut
Ø
Kelemahan
otot
Ø
Rasa
kantuk
Ø
Penurunan
kadar kalium menyebabkan disritmia jantung ( takikardi atrium ventrikel ) yang
dapat menimbulkan kematian.
g.
Pemeriksaan Diagnostik
Ø
Pemeriksaan
faeses rutin.
Ø
USG
abdomen + kolon
Ø
Radiologi
Ø
Kolonoskopi
h. Penatalaksanaan
1.
Pengendalian
dan pengobatan penyakit dasar
2.
Cairan
oral di tingkatkan
3.
Cairan
melalui parenteral ( infuse )
4.
Obat-obatan
untuk membunuh penyebabnya
-
Tetraciclin
-
Loperamid
-
Papaverin
II. ASUHAN
KEPERAWATAN
a.
Pengkajian
Ø
Aktivitas
-
Lelah, malaise dan lokasi kerja, serta perasaan gelisa.
Ø
Integritas
ego
-
Faktor stress, emosi, ketakutan dan faktor budaya.
Ø
Eliminasi
-
Pola makan, episode diare, riwayat gastritis, dan warna faeses.
Ø
Makanan
/ cairan
-
Nafsu makan, makanan yang berpantangan, kesukaan.
Ø
Higiene
-
Kebersihan perseorangan, lokasi tempat tinggal dan pola berpakaian.
Ø
Kenyamanan
-
Perasaan pada abdomen, nyeri tekan dan lokasi nyeri.
b. Diagnosa Keperawatan
1.
Resiko
terhadap kekurangan volume cairan b/d pembuangan faeses yang sering dan
kurangnya asupan cairan d/d muntah dan berak.
2.
Gangguan
rasa nyaman dan nyeri b/d hiperperistaltik, diare lama, iritasi kulit atau
jaringan d/d nyeri abdomen kolik ( kram / nyeri menyebar ), dan gelisah.
3.
Perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/b gangguan absorbsi nutrisi d/d penurunan
BB, muka pucat, tonus otot buruk.
c. Perencanaan
Dx. I.
Tujuan
:
Menghindari
kekurangan cairan
Kriteria
Hasil :
-
Membran
mukosa lembab
-
Turgor
kulit normal
-
Tanda-tanda
vital normal
-
Mengalami
keseimbangan cairan masuk dan keluar
|
Intervensi
|
Rasionalisasi
|
|
1. Awasi
masukan dan keluaran, karakter dan jumlah frekuensi BAB.
2. Pantau
/ kaji tanda-tanda vital seperti : TD, HR, RR, Temp
3. Observasi
kulit kering berlebihan dan memban dan mukosa, penurunan turgor kulit dan
penurunan berat badan
4. Kolaborasi
tentang pemberian cairan parenteral sesuai indikasi
5. Dorong
pasien untuk penggantian cairan oral dalam bentuk air, jus, kaldu.
|
1.
Agar
cepat memberiakan informasi tentang keseimbangan cairan dan gejala lainnya
yang berdampak fatal
2 Hipotensi,
takikardia, demam dapat menunjukkan respon terhadap efek kehilangan cairan
3. Karena
menunjukkan kehilangan cairan berlebihan / dehidrasi.
4. Mempertahankan
istirahat usus akan memerlukan
penggantian cairan untuk memperbaiki dengan cepat kehilangan
5. Cairan
yang keluar sebagai pengganti.
|
DX. II.
Tujuan
:
Nyeri
hilang / terkontrol
Kriteria
Hasil :
|
Intervensi
|
Rasionalisasi
|
|
1. Dorong
pasien untuk melaporkan rasa nyeri
2. Kaji
laporan kram abdomen dan catat lokasi, lamanya, intensitas (0-10 )
3. Jaga
kerbersihan pasien.
|
1. Mencoba mentoleransi nyeri, dari
pada meminta analgesic
2. Nyeri
sebelum defekasi sering terjadi pada keadaan umum dengan tiba-tiba dimana
dapat berat dan terus menerus
3. Dengan
membersihkan pasien maka rasa nyaman bisa tercipta sendirinya
|
DX
III
Tujuan
: Agar nutrisi terpenuhi sesuai dengan kebutuhan
Kriteria
Hasil :
Menunjukkan
peningkatan berat badan sesuai sasaran dan tidak ada tanda-tanda malnutrisi
|
Intervensi
|
Rasionalisasi
|
|
1.
Batasi
makan yang dapat menyebabkan kram abdomen, mulas dan muntah
2.
Dorong
pasien untuk tirah baring atau pembatasan aktivitas selama fase sakit
3. Timbang
BB setiap hari
4. Berikan
kebersihan oral
|
1. Untuk
mencegah serangan akut dan terhadap berbagai gejala
2. Menurunkan
kebutuhan metabolic untuk mencegah penurunan kalori dan simpanan energi
3. Untuk
mengetahui apakah ada peningakatan BB atau mengalami penurunan
4. Mulut
yang bersih dapat meningkatkan rasa makanan
|
BAB
II
TINJAUAN
KASUS
I. PENGKAJIAN
I. Identitas
Pasien
Nama : Tn. M
Umur : 68
Tahun
Tempat
tanggl lahir : Tapak Tuan,
13-12-1940
Jenis
kelamin :
Laki-laki
Status
perkawinan : Kawin
Agama : Islam
Pendidikan : SLTA
Pekerjaan : Purnawirawan
TNI
Suku : Aceh
Alamat : Tapak
Tuan, Aceh Selatan
Lama
bekerja : 23
Tahun
Tanggal
masuk RS : 16 Januari 2009
Nomor
RM : 37 92
55
Sumber
informasi : Istri
Tanggal
pengkajian : 28 Januari 2009
Diagnosa
Medik : Diare Kronik
Identitas
Penanggung Jawab
Nama :
Ny. N
Pendidikan :
Tamat SLTA
Pekerjaan :
Ibu Rumah Tangga
Alamat :
Aceh Selatan
Hubungan dengan pasien : Istri
II.
Riwayat
Kesehatan Sekarang
a.
Alasan
Masuk RS / Keluhan Utama :
- Badan lemas
- Diare
b.
Faktor
pencetus : Makanan
yang kurang bersih dan tidak teratur
c.
Lamanya
keluhan : 1 Bulan
d.
Timbulnya
keluhan : Bertahap
e.
Faktor
yang memperberat : Makanan yang
mengandung minyak dan pedas
f.
Upaya
yang dilakukan untuk mengatasinya :
- Minum air hangat
- Menggosok perut dengan minyak gosok
g.
Diagnosa
Medis
-
Diare
Kronik tanggal : 16 Januari 2009
-
Diare
kronik tanggal : 19 Januari
2009
-
Diare
kronik tanggal : 22 Januari
2009
-
Diare
kronik ec colitis ulcerosa tanggal : 26 Januari 2009
III.
Riwayat
Kesehatan Yang Lalu
1. Penyakit
yang pernah dialami
a. Anak-anak
- Pasien pernah batuk dan flu, demam
- Pasien berobat kepada perawat
b. Pasien tidak pernah mengalami kecelakaan
c. Pernah dirawat penyakit diare
- Pasien mengatakan ± 1 tahun menderita
penyakit diare yang kadang-kadang hilang
dan kadang-kadang timbul timbul
d. Operasi
- Pasien tidak pernah operasi
2. Alergi
- Pasien tidak alergi terhadap makanan
ataupun obat
3. Imunisasi
- Pasien mengatakan kurang tahu dan tidak ada
tanda-tanda bekas imunisasi seperti pada lengan
4. Kebiasaan
- Merokok dan minum alkohol
5. Obat-obatan : Antipiretik
Lamanya : 1 Minggu
Sendiri : Tidak
Orang
lain resep : Ya,diresep dokter
IV. Riwayat keluarga
Genogram

Pasien
Kesimpulan
:
Dari genogram di atas tidak ada
penyakit keturunan yang berhubungan
dengan penyakit penderita sekarang.
V.
Riwayat
lingkungan
- Kebersihan :
Pasien mengatakan pekarangan rumah bersih, tidak ada air yang tergenang
- Bahaya :
-
- Polusi :
Udara kendaraan / bus
VI. Aspek Psikologi
1. Pola pikir dan persepsi
a. Alat Bantu yang digunakan
- Alat Bantu penglihatan : Kaca mata
- Alat Bantu pendengaran : Tidak ada
b. Kesulitan yang dialami
- Pasien mengalami sering pusing menurunnya
sensitifitas terhadap sakit dan kadang-kadang sulit membaca dan menulis
2.
Persepsi
Diri
- Hal yang sangat dipikirkan saat ini :
Pasien berpikir agar cepat sembuh sehingga
cepat pulang
-
Harapan
setelah menjalani perawatan :
Pasien
berharap agar penyakitnya tidak kambuh lagi
-
Perubahan
terasa sedikit : -
3.
Suasana
hati : Pasien
merasa tentram dan tenang
Rentang perhatian :
Sabar
4.
Hubungan
komunikasi
a. Berbicara
- Pasien bicara dengan jelas, relevan, mampu
mengekspresikan dan mampu mengerti orang lain
- Bahasa
yang digunakan adalah Bahasa Indonesia
b. Tempat tinggal
- Pasien
tinggal di rumah sendiri bersama istri dan anak
c. Kehidupan keluarga
- Adat istiadat yang dianut : Adat Aceh
- Pembuatan keputusan dalam keluarga : Secara bersama
- Pola komunikasi : Baik
- Keuangan :
Cukup
d. Kesulitan dalam keluarga
- Pasien tidak mempunyai kesulitan pada hubungan
orang tua, hubungan sanak keluarga dan hubungan antara istri dan anak – anak.
5. Kebiasaan seksual :
Belum dikaji
6. Pertahanan koping
a. Pengambilan keputusan : Dalam keadaan mendesak pasien memutuskan sendiri.
b. Yang disukai tentang diri sendiri : Percaya diri
c. Yang ingin dirubah dari kehidupan : Gaya
hidup (life style)
d. Yang dilakukan jika stress
- Pemecahan masalah dan
- Merokok
e.
Apa yang dilakukan perawat agar anda nyaman dan aman ?
Pasien
mengatakan agar perawat memperhatikan keadaannya dan juga lingkungan terutama kunjungan terhadap pasien dan perawat dapat
merawatnya dengan baik sesuai profesi keperawatan.
7.
Sistem
Kepercayaan
a.
Siapa
atau apa sumber kekuatan :
Tuhan
b. Apakah
Tuhan, agama, kepercayaan penting untuk anda :
Ya
c. Kegiatan
agama atau kepercayaan yang ingin dilakukan
: Sholat
- Subuh
- Dzuhur
- Azhan
- Maghrib
- Isak
VII. Pemeriksaan Fisik
a.
Keadaan
umum pasien : lemah dan wajah tampak
pucat.
Kesadaran : Composmentis
b.
Tanda
Vital
TD : 110 / 70 mmHg
HR : 64 x / i
RR : 20 x / i
T : 36, 8 0
C
VIII.
Pemeriksaan
Head To Toe :
- Kepala
Bentuk
: Bulat lonjong
Kulit
kepala : Bersih, tidak ditemukan
kelainan
Keluhan
yang berhubungan : Pusing dan sakit
kepala
- Mata
Bentuk : Bulat dan simetris
Ukuran pupil :
Bersih, dan simetris
Konjungtiva :
Pucat
Sclera : Tidak ikterus
Fungsi penglihatan : Mulai kabur
Rasa sakit :
Tidak ada
Tanda-tanda radang : Tidak ditemukan
Kaca mata :
Kadang-kadang dipakai
-
Hidung /
Penciuman
Bentuk dan posisi :
Normal dan simetris
Fungsi penciuman :
Baik
Reaksi alergi :
Tidak ada
Pernah mengalami flu : Pernah
Frekuensi dalam setahun : Tidak menentu tergantung pada cuaca
-
Telinga
/ Pendengaran
Bentuk / Posisi : Kiri
dan kanan simetris
Fungsi pendengaran : Agak berkurang
-
Mulut /
Gigi
Bentuk bibir :
Simetris dan tampak kering
Gigi : Kurang bersih dan gigi geraham
tanggal 2 kiri dan 2 kanan
-
Leher
Bentuk :
Normal
Kelenjar tiroid :
Tidak ada pembesaran
-
Thorax
dan fungsi pernapasan
Bentuk dada :
Simetris
Bunyi nafas :
Vesikuler
Pola nafas :
Eupnoe (normal)
Irama :
Teratur
-
Sirkukasi
/ Jantung
Capillary Repling :
Normal (1-2
detik kembali kesemula)
Bunyi Jantung :
Lup - Dup
-
Abdomen
Turgor kulit abdomen :
Kurang baik agak berkerut
Bentuk :
Simetris
Bising usus :
Lebih dari normal
Nyeri :
Nyeri tekan pada epigastrium dan daerah kolon desendens
Suara perkusi :
Hypersonor (perut kembung)
-
Kulit
Warna :
Sawo matang
Turgor :
Kurang baik / berkerut
Clubbing Finger :
Tidak ada
-
Ekstermitas
Atas :
Tidak terdapat kelainan, terpasang infus RL 20 tts
permenit pada pergelangan tangan kanan.
Bawah :
Kaki kanan terasa kebas dan persendian ngilu
Data Laboratorium
a. Pemeriksaan Hematologi tgl 17-01-2009
- Haemoglobin : 14,4 gr % è N : laki-laki :
13-16 gr %
Wanita :
12-14 gr%
- Leucosit : 5,430 mm3 è N :
5000 - 10.000 mm3
- Trombosit : 523
- KGD : 116 mg/dl è
N : 120 mg/dl
b. Pemeriksaan Feses tgl 17-01-2009
- Konsistensi : Cair dan berlendir
- Parasit : Tidak ada
Pengobatan
Tanggal
16 Januari 2009
- Infus
RL 20 tt/i
- Tirah
baring
- Loperamid
250 mg 3 x 1
- Sulfasalazin
250 mg 3 x 1
- Tetrasiklin
500 mg 3 x 1
Tanggal
17 Januari 2009
- Infus RL cor
- Inj.Gentamicin 1 gr
- Tetrasiklin 500 mg 3 x 1
- Sulfasazin 250 mg 3 x 1
- Loperamid
250 mg 3 x 1
Tanggal
19 Januari 2009
- Infus RL cor
- Tirah baring
- Loperamid 250 mg 3 x 1
- Tetrasiklin 500 mg 3 x 1
- Imodium 1 x 1
Pemeriksaan
Diagnostik
- Tanggal 22 Januari 2009
USG abdomen : Pada usus
tampak bayangan tukak / bintik luka
Tanggal 24 Januari 2009
-
Colonskopi : Terdapat borok pada
kolon
Pengobatan
tanggal 24 Januari 2009
- Diet MB II
- Tirah baring
- Infus RL 30 tts/i
- Loferamid 250 mg 3 x 1
- Sulfasalozin 250 mg 3 x 1
II. ANALISA DATA
|
No.
|
Data
|
Etiologi
|
Masalah
|
|
1
|
Ds : Px mengatakan perutnya mulas, gembung dan
nyeri, frekuensi BAB > 5 x / hari
Do : Mata
cekung, px tampak gelisah, turgor kulit jelek, mukosa mulut/bibir kering
TD
: 110/70mmHg, HR: 64 x/i, RR: 20 x/I T : 36,8oC
|
Diare sekunder, tukak dan colitis
|
Gangguan keseimbangan cairan
|
|
2
|
Ds : Px mengatakan nyeri dibagian abdomen,
gembung px merasa mulas dan frekuensi BAB > 5 x/hari
Do : Px tampak gelisah, konsistensi feses cair
|
Tukak,colitis,ulkus ulserosa
|
Gangguan rasa nyaman gembung
|
|
3
|
Ds: Px
mengatakan tidak ada selera makan dan merasa tidak bertenaga
Do : Diet yang disajikan
hanya habis ½ porsi, penurungan BB
(+) 6 kg dalam 1 bulan
|
Gangguan absorbsi nutrient
|
Gangguan pemenuhan nutrisi kurang
dari kebutuhan
|
|
4
|
Ds : Px mengatakan tidak tahu penyebab
penyakitnya
Do : Px selalu bertanya tentang penyakitnya
kepada perawat dan dokter
|
Kurang informasi
|
Kurangnya
pengetahuan tentang proses
penyakitnya
|
III. PRIORITAS MASALAH
1.
Gangguan
keseimbangan cairan b/d diare sekunder, tukak, colitis d/d pasien mengatakan
perutnya mulas, gembung dan nyeri, mata cekung, gelisah, turgor kulit jelek,
mukosa mulut / bibir kering.
2.
Gangguan
rasa nyaman, gembung b/d tukak,colitis,ulkus ulserosa d/d pasien mengatakan
nyeri bagian abdomen, gembung, mual, gelisah, konsistensi feses cair.
3.
Gangguan
pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d gangguan absorpsi nutrien d/d elera makan tidak ada, tidak bertenaga, diet
yang disajikan habis ½ porsi, penurunan BAB (+)
4.
Kurangnya
pengetahuan tentang proses penyakitnya b/d kurang informasi d/d pasien selalu bertanya tentang penyakitnya kepada
perawat dan dokter.
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Nama Pasien : Tn. M Dx.
Medis : Diare Kronis
Umur : 68 Tahun Ruangan
: Rindu A2 RSUP H. Adam Malik Medan
|
No
|
Diagnosa
Keperawatan
|
Tujuan
/ Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
Rasionalisasi
|
|
1.
|
Gangguan keseimbangan cairan b/d
Diare sekunder, tukak, colitis d/d pasien mengatakan perutnya mulas, gembung
dan nyeri, mata cekung, gelisah, turgor kulit jelek, mukosa mulut / bibir
kering, frekuensi BAB > 5 x/hari
|
Tujuan : Mempertahankan volume cairan yang
adekuat.
Kriteria hasil :
- mukosa mulut dan bibir lembab,turgor
kulit baik dan tanda-tanda vital normal.
-
mata cekung
- BAB kembali normal
|
-
Observasi
turgor kulit yang berlebihan, kulit
kering dan membran mukosa yang berlebihan
-
kaji
tanda-tanda vital seperti:TD,HR,RR,dan suhu pasien
-
Awasi
pemasukan dan pengeluaran serta warna jlh BAB
-
Kolaborasi
dengan dokter dalam pemberian cairan melalui parentral sesuai indikasi
|
-
Memberikan
informasi tentang keseimbangan cairan fungsi ginjal dan control penyakit usus
juga merupakan pedoman pengganti cairan.
-
Hipotensi,
takikardia, demam dapat menunjukkan respon terhadap efek kehilangan cairan.
-
Pemasukan
dan pengeluaran dapat menunjukan kondisi penyembuhan pasien.
-Mempertahankan istirahat usus yang
akan memerlukan penggantian cairan sehingga dapat memperbaiki kehilangan
cairan
|
|
2.
|
Gangguan rasa nyaman, gembung b/d
hiperperistaltik usus d/d pasien mengatakan nyeri bagian abdomen, gembung,
mual, gelisah, konsistensi feses cair,frekuensi BAB > 5 x/hari
|
Tujuan :
Agar rasa nyaman terpenuhi dan
gembung teratasi
Kriteria hasil :
- pasien menunjukan tenang dan
istirahat denagn tenang
- Peristaltik dalam keadaan baik
|
-
Dorong
pasien untuk melaporkan rasa nyeri
-
Kaji
laporan kram abdomen dan catat lokasinya
-
Ciptakan
suasana tenang dan aman pada lingkungan pasien seperti membatasi kunjungan
-
Anjurkan
pasien untuk mengatur posisi sendiri sesuai dengan kebutuhan
|
-
Untuk
mengidentifikasikan nyeri
-
Kesakitan
sebelum defekasi sering terjadi keadaan umum dengan tiba-tiba dimana dapat
berat dan terus-menerus.
-
Dengan
lingkungan yang nyaman dan tenang akan membantu pengendalian emosional.
-
Dengan
posisi yang baik dapat menciptakan rasa aman
|
|
3.
|
Gangguan pemenuhan nutrisi kurang
dari kebutuhan b/d gangguan absorbsi nutrien d/d pasien mengatakan tidak
selera makan, tidak bertenaga, diet yang disajikan habis ½ porsi
|
Tujuan:
-Agar nutrisi terpenuhi sesuai
kebutuhan tubuh
Kriteria Hasil:
-Peningkatan Berat badan sesuai
dengan nilai normal
-Tidak dapat tanda mal nutrisi
|
-
Batasi
makanan yang dapat menyebabkan kram abdomen seperti:makanan yang lemak dan pedas
-
Timbang
berat badan maksimum satu kali dalam tiga hari
-
Dorong
tirah baring dan pembatasan aktivitas selama fase sulit
-
Dorong
pasien untuk kebersihan oral
-
Dorong
pasien untuk mengatakan masalah tentang makanan/dietnya
|
-
Untuk
mencegah seranagn akut yang dapat menimbulkan gejala.
-
Untuk
memberi informasi tentang kebutuhan diet dan keefektifan terapi.
-
Untuk
menurunkan kebutuhan metabolic dan menceah penurunan kalori.
-
Mulut
yang bersih dapat meningkatkan selera makan.
-
Keragu-raguan
untuk makan mungin diakibatkan oleh takut makn yang menyebabkan eksasebrasi
gejala.
|
|
4.
|
Kurangnya pengetahuan tentang proses
penyakitnya b/d kesalahan interpretasi informasi d/d pasien mengatakan tidak tahu penyebab penyakitnya, dan selalu
bertanya tentang penyakitnya.
|
Tujuan:
Agar pasien dapat memahami prose
penyakit serta pengobatannya.
Kriteria Hasil :
Pasien dapat berpartisipasi dalam
pengobatan dan akan melakukan perubahan pola hidup
|
-
Kaji
ulang proses penyakit dan penyebab factor yang menimbulkan gejala
-
Kaji
ulang obat, tujuan, frekuensi, dosis, dan kemungkinan efek samping
-
Tekankan
pentingnya personal hygine pada pola hidup sehari-hari
-
Anjurkan
untuk menghentikan merokok dan minum alkohol
|
-
Faktor
pencetus/pemberat sehingga pasien waspada terhadap makanan cairan dan factor
pola hidup yang dapat mencetuskan gejala.
-
Meningkatkan
pemahaman dan dapat meningkatkan kerja sama dalam program.
-
Menurunkan
penyebaran bakteri dalam resiko iritasi kulit.
-
Dapat
meningkatkan mobilitas usus dan peningkatan gejala serta menurunkan daya
tahan tubuh
|
CATATAN
PERKEMBANGAN
|
No.
|
Hari / Tgl
|
Jam
|
No.Dx
|
Implementasi
|
Evaluasi
|
|
1
|
Rabu
28-01-2009
Pagi
|
08.00
09.00
09.15
09.30
10.00
10.30
10.45
11.00
11.30
11.45
12.30
13. 00
13. 30
|
1.
2.
3.
4
|
-
Memantau
keadaan umum
-
Mengukur
tanda-tanda vital :
TD:
110 / 70 mmHg
HR:
64 x / i
RR:
20 x / i
T : 36,80 C
-
Mengawasi
pemasukan dan pengeluaran serta warna jumlah BAB
-
Memberi
minum melalui oral sebanyak 200 cc
-
Mengobservasi
turgor kulit dan keadaan membran mukosa
- Mendorong pasien untuk
melaporkan rasa nyeri
-
Mengkaji intensitas nyeri dan
lokasi nyeri
- Menganjurkan pasien untuk mengatur
posisi nyaman
-
Menganjurkan untuk minum air hangat
-
Menggosok perut pasien dengan balsem
- Membatasi pasien untuk makan yang
lemak dan pedas
-
Memberikan diet pasien
-
Mengevaluasi porsi diet yang dihabiskan
- Membatasi makanan yang dapat
menyebabkan kram abdomen misalnya; makanan yang pedas dan berlemak.
-
Menimbang berat badan maksimum satu kali dalam tiga hari..
- Mendorong pasien untuk tirah
baring dan pembatasan aktivitas
- Menganjurkan pasien untuk makan
dengan porsi sedikit tapi sering
-
Mengkaji ulang proses penyakit dan penyebab faktor yang menimbukan
gejala.
-
Menekankan pentingnya personal hygiene misalnya cara mencuci tangan
dengan baik.
-
menganjurkan pasien untuk merubah pola hidup yang merugikan kesehatan
misalnya merokok dan minum minuman beralkohol
|
10. 00 WIB
S :
Klien mengatakan perutnya mulas, gembung, dan nyeri, BAB > 5 x /
hari
O : Klien tampak gelisah, turgor kulit jelek,
mata cekung, mukosa mulut / bibir kering
Skala nyeri 6, jumlah pemasukan
makanan ½ porsi dan warna BAB kuning dan cair.
A :
Masalah belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
11.15 WIB
S : Pasien mengatakan rasa gembung agak berkurang
O
: Skala nyeri 4
A
: Masalah belum teratasi
P
: Intervensi dilanjutkan
13.30 WIB
S : Pasien mengatakan tidak ada
selera makan
O : Diet yang dihabiskan ½ porsi
A
: Masalah belum teratasi
P
: Intervensi dilanjutkan
14.00 WIB
S : Pasien mengatakan
penyakitnya memburuk bila ia
mengkomsumsi makanan pedas dan lemak
O
: Ekspresi wajah pasien
tampak tegang, pasien bertanya kapan ia bisa sembuh
A :
Masalah belum teratasi
P :
Intervensi dilanjutkan
|
|
|
Sore,
28-01- 2009
|
14.00
|
1
|
-
Mengobservasi
keadaan pasien dan mengukur tanda-tandavital,
TD :110/70 mmHg,
HR : 70x/I,
RR : 20x/I,
T : 36.80 C.
|
14. 15
S:
Pasien mengatakan masih lemah
O:Masukan oral:1000cc,haluaran
feses: BAB:6x,BAK:5x
A:Masalah belum teratasi
P:Intervensi dilanjutkan
|
|
|
Malam
Kamis
29-01-2009
Pagi
Sore
Malam
Jumat
30-01-2009
Pagi
Sore,
30-01- 2009
Malam
|
15.00
16.00
17.00
17.30
17.45
18.00
18.30
19.30
19.45
20.30
21.00
22.00
22.30
23.00
05.00
06.30
06.45
07.00
07. 30
07. 45
08.00
08.30
09.00
09.30
10.00
10.30
11.00
11.30
12. 00
12.30
12.45
14.00
14.30
15.00
15.30
15.45
16.00
16.30
17.00
17.00
17.30
18.00
18.30
18.30
19.00
19.00
20.00
20.00
20.30
21.00
21.30
22.00
22.00
22.30
06.00
06.30
07.00
07.30
08.00
08.00
09.00
09.15
09.30
10.00
10.30
10.45
11.00
11.30
11.45
12.30
13. 00
13. 30
14.00
15.00
16.00
17.00
17.30
17.45
18.00
18.30
19.30
19.45
20.00
20.30
21.00
22.00
22.30
23.00
05.00
06.30
06.45
07.00
07. 30
07. 45
|
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
|
-
Menganjurkan
pasien untuk membatasi aktivitas.
-
Mengawasi
masukan dan haluaran urine.
-
Menganjurkan
pasien untuk mengusap bagian abdomen dengan minyak gosok.
-
Memberikan
buli-buli panas dibagian yang sakit.
-
Menjelaskan
tentang pentingnya gizi untuk proses penyembuhan
-
Menganjurkan
pasien untuk makan dalam posisi sediki tapi sering
-
Memberi
diet pasien dalam keadaan hangat
-
Mengevaluasi
porsi diet yang dihabiskan
-
Mendorong pasien untuk pasien
mengekspresikan persepsinya tentang penyakitnya.
-
Mendorong pasien untuk minum obat secara
teratur.
-
Memberi
informasi tentang proses penyakit dan pengobatannya.
-
Menganjurkan
pasien untuk menjaga kebersihan personal hygiene dan makanannya
-
Memantau
keaadan umum pasien
-
Mengukur
tanda-tanda vital
TD : 120/80mmHg
HR : 72/i
RR : 20x/i
T
: 36.70c
-
Mengganti
cairan infus RL 20 tts / i
-
Menganjurkan pasien untuk istirahat
- Memberikan buli-buli panas
dibagian yang sakit
-
Mendorong pasien untuk tirah baring
-
Mengusap-usap bagian yang nyeri
- Merubah posisi semi fowler
- Menjelaskan tentang pentingnya
gizi untuk proses penyembuhan
- Memberikan diet pasien dalam
keadaan hangat
-
Mengevaluasi porsi diet yang dihabiskan
-
Menimbang BB pasien
- Mengevaluasi pemahaman pasien
tentang penyakitnya
-
Mengkaji pola makan pasien sebelum sakit
-
Memberi penjelasan tentang faktor yang dapat mempreberat penyakitnya
-
Memantau
keadaan umum pasien
-
Mengukur
tanda-tanda vital
TD:120/80mmHg,HR:76x/I,RR:20x/I,T:370c
-
Mengganti
cairan infus RL 20 tts/i
-
Menganjurkan
pasien untuk banyak minum
-
Mengobservasi
keadaan turgor kulit dan membran mukosa
-
Mengkaji
tingkat nyeri
-
Menganjurkan
pasien untuk mengatur posisi yang nyaman sesuai kebutuhan
-
Memberikan
buli-buli panas disekitar abdomen
-
Menjelaskan
tentang pentingnya gizi untuk proses penyembuhan
-
Memberi
diet pasien dalam keadaan hangat
-
Mendorong
pasien untuk mengatakan masalah terhadap diet yang disajikan
-
Mengevaluasi
porsi diet yang dihabiskan
-
Menjelaskan
kepada pasien tentang pross penyakit dan hal yang dapat meringankannya
-
Menganjurkan
pasien untuk menjaga kebersihannya
-
Mengevaluasi
pengetahuan pasien
-
Mengobservasi
kedaan pasien
-
Mengukur
tanda-tanda vital
TD :120 / 80 mmHg
RR : 20x / i
HR : 76x /i
T:36.90c
-
Mengawasi
intake masukan dan haluaran
-
Mengkaji
frekuensi BAB
-
Menganjurkan
pasien untuk mengusap-usap bagian yang sakit
-
Melatih
teknik nafas dalam
-
Menganjurkan
pasien nuntuk mengatur posisi sesuai kebutuhan
-
Memberikan
buli-buli panas pada bagian yang sakit
-
Menjelaskan tentang pentingnya gizi
proses penyembuhan
-
Menganjurkan
pasien untuk menghindari makanan pedas dan berlemak
-
Memberikan
diet pasien dalam keadaan hangat
-
Mengevaluasi
porsi diet yang dihabbiskan
-
Menjelaskan
tentang proses penymbuhan penyakit
-
Menganjurkan
pasien untuk menjaga kebersihan personal hygiene
-
Mengajarkan
teknik mencuci tangan yang benar
-
Mengevaluasi
tingkat pemahaman pasien terhadap penyakitnya
-
Mengobservasi
keadaan pasien
-
Mengukur
tanda-tanda vital :
TD :110 / 70 mmHg, HR:76x/I,RR:20x/I,T:370c
-
Mengawasi
intake masuksan dan haluaran
-
Mengganti
cairan infus RL20tts / i
-
Menganjurkan
pasien untuk istiahat
-
Memberikan
posisi yang nyaman untuk pasien
-
Memberikan
buli-bulu panas pada bagian yang sakit
-
Menjelaskan
tentang pentingnya gizi untuk proses penyembuhan
-
manganjurkan
px untuk menghindari makanan yang pedas dan berlemak
-
Memberikan
diet px dalam keadaan hangat
-
Mengevaluasi
porsi diet yang disajikan
-
Menimbang
BB Px
-
Menekankan
pentingnya kebersihan personal hygiene
-
Menjelaskan
tentang tujuan pengobatan
-
mengevaluasi
pemahaman pasien tentang penyakitnya
-
Memantau keadaan umum
-
Mengukur
tanda-tanda vital :
TD: 110 / 70 mmHg
HR: 64 x / i
RR: 20 x / i
T
: 36,80 C
-
Mengawasi
pemasukan dan pengeluaran serta warna jumlah BAB
-
Memberi
minum melalui oral sebanyak 200 cc
-
Mengobservasi
turgor kulit dan keadaan membran mukosa
- Mendorong pasien untuk
melaporkan rasa nyeri
-
Mengkaji intensitas nyeri dan
lokasi nyeri
- Menganjurkan pasien untuk mengatur
posisi nyaman
-
Menganjurkan untuk minum air hangat
-
Menggosok perut pasien dengan balsem
- Membatasi pasien untuk makan yang
lemak dan pedas
-
Memberikan diet pasien
-
Mengevaluasi porsi diet yang dihabiskan
- Membatasi makanan yang dapat
menyebabkan kram abdomen misalnya; makanan yang pedas dan berlemak.
-
Menimbang berat badan maksimum satu kali dalam tiga hari.
- Mendorong pasien untuk tirah
baring dan pembatasan aktivitas
- Menganjurkan pasien untuk makan
dengan porsi sedikit tapi sering
-
Mengkaji ulang proses penyakit dan penyebab faktor yang menimbukan
gejala.
-
Menekankan pentingnya personal hygiene misalnya cara mencuci tangan
dengan baik.
-
menganjurkan pasien untuk merubah pola hidup yang merugikan kesehatan
misalnya merokok dan minum minuman beralkohol
-
Mengobservasi
keadaan pasien dan mengukur tanda-tandavital,TD :110/70 mmHg, HR : 70x/I, RR
: 20x/I, T : 36.80 C.
-
Menganjurkan
pasien untuk membatasi aktivitas.
-
Mengawasi
masukan dan haluaran urine.
-
Menganjurkan
pasien untuk mengusap bagian abdomen dengan minyak gosok.
-
Memberikan
buli-buli panas dibagian yang sakit.
-
Menjelaskan
tentang pentingnya gizi untuk proses penyembuhan
-
Menganjurkan
pasien untuk makan dalam posisi sediki tapi sering
-
Memberi
diet pasien dalam keadaan hangat
-
Mengevaluasi
porsi diet yang dihabiskan
-
Mendorong pasien untuk pasien
mengekspresikan persepsinya tentang penyakitnya.
-
Mendorong pasien untuk minum obat secara
teratur.
-
Memberi
informasi tentang proses penyakit dan pengobatannya.
-
Menganjurkan
pasien untuk menjaga kebersihan personal hygiene dan makanannya
-
Memantau keaadan umum pasien
-
Mengukur
tanda-tanda vital
TD :
120/80mmHg
HR : 72/i
RR : 20x/i
T : 36.70c
-
Mengganti
cairan infus RL 20 tts / i
-
Menganjurkan pasien untuk istirahat
- Memberikan buli-buli panas
dibagian yang sakit
-
Mendorong pasien untuk tirah baring
-
Mengusap-usap bagian yang nyeri
- Merubah posisi semi fowler
- Menjelaskan tentang pentingnya
gizi untuk proses penyembuhan
- Memberikan diet pasien dalam
keadaan hangat
-
Mengevaluasi porsi diet yang dihabiskan
-
Menimbang BB pasien
- Mengevaluasi pemahaman pasien
tentang penyakitnya
-
Mengkaji pola makan pasien sebelum sakit
-
Memberi penjelasan tentang faktor yang dapat mempreberat penyakitnya
|
S:Pasien mengatakan nyeri berkurang
O:Ekspresi wajah pasien tampak
tenang
A:Masalah sebagian teratasi
P:Intervensi dilanjutkan
20.00 WIB
S:Pasien mengatakan cemas terhadap
penyakitnya
O:Pasien bertanya kemungkinan sembuh
dari penyakinya dan pengobatannya
A:Masalah belum teratasi
P:Intervensi dlanjutkan
22.00 WIB
S:Pasien
mengatakan lebih bersemangat
O:Ekspresi
wajah pasien tampak tenang
A:Masalah sebagian teratasi
P:Intervensi dilanjutkan
23.00
S:Pasien
mengatakan nyeri berkurang
O:Ekspresi
wajah pasien tampak tenang
A:Masalah sebagian teratasi
P:Intervensi dilanjutkan
07.00 WIB
S:Pasien
mengatakan terasa nyaman dan nyeri bagian abdomen berkurang.
O:Pasien
tampak nyaman, dapat tidur dengan tenang
A:Masalah sebagian teratasi
P:Intevensi dilanjutkan
08.00 WIB
S:Pasien
mengatakan nafsu makan tidak ada
O:Diet
yang disajikan habis ½ porsi, BB 45 kg
A:Masalah belum teratasi
P:Intervensi dilanjutkan
10.00 WIB
S:Pasien
mengatakan penyakitnya sudah mulai berkurang
O:Pasien
banyak minum (5-6 gelas perhari),
selera makan mulai ada.
A:Masalah sebagian teratasi
P:Intervensi dilanjutkan
11.45 WIB
S
: Pasien mengatakan minum air 6 gelas perhari
O : Wajah pasien mulai tampak tidak pucat,
turgor kulit sedikit membaik
A : Masalah sebagian teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
11. 45
S:Pasien
mengatakan nyeri berkurang
O:Skala
nyeri 4,pasien tampak lebih bersemangat
A:Masalah sebagian teratasi
P:Intervensi dilanjutkan
12.45
S:Pasien
mengatakan diet yang disajikan tidak enak
O:Porsi
yang disajikan habis ¾ porsi
A:Masalah sebagian teratasi
P:Intervensi dilanjutkan
15.45 WIB
S:Pasien
mengatakan mengerti tentang penyakitnya
O:Ekspresi wajah tampak tenang
A:Masalah sebagian teratasi
P:Intervensidilanjutkan
17.00 WIB
S:Pasien
mengatakan keadaannya sudah mulai membaik
O:Frekwensi
BAB 3x konsistensi feses:lembek
A:Masalah sebagian teratasi
P:R/T dilanjutkan
18.30 WIB
S:Pasien mengatakan nyeri berkurang
O:Ekspresi
wajah pasen tampak tenang
A:Masalah sebagian teratasi
P:Intervensi dilanjutkan
20.00 WIB
S:Pasien
mengatakan akan menghabiskan makanan yang telah disajikan
O:Porsi
diet yang disajikan hanya habis ¾ porsi
A:Masalah sebagian teratasi
P:Intervensi dilanjutkan
22.00 WIB
S:Pasien
mengatakan paham akan penjelasan penyakit
O:Pasien
dapat mempraktekkan teknik mencuci tangan yang benar
A:Masaalah sebagian teratasi
P:Intervensi dilanjutkan
22.45 WIB
S:Pasien
mengatakan merasa lebih sehat
O:Masukan
px per oral: 800 cc, parenteral : 750 cc, urine : 1000 cc, BAB : 3x
A: Masalah sebagian teratasi
P: Intervensidilanjutkan
07. 15 WIB
S:Px
mangatakan nyeri berkurang
O:Ekspresikan
wajah px tampak tenang
Px dapat tidur
A: Masalah sebagian teratasi
P: Intervensi dilanjutkan
08.00 WIB
S:
Px mengatakan nafsu makan bertambah
O:
porsi diet yang disajikan habis ¾ porsi
A: masalah sebagaian teratasi
P: Intervensi dilanjutkan
10.30 wib
S:
px mengatakan paham tujuan pengobatan
O:
ekspresi wajah px tampak tenang
A: masalah sebagian teratasi
P: Intervensi dilanjutkan
11. 30 WIB
S :
Klien mengatakan perutnya mulas, gembung, dan nyeri, BAB > 5 x /
hari
O : Klien tampak gelisah, turgor kulit jelek,
mata cekung, mukosa mulut / bibir kering
Skala nyeri 6, jumlah pemasukan
makanan ½ porsi dan warna BAB kuning dan cair.
A :
Masalah belum teratasi
P :
Intervensi dilanjutkan
13.30 WIB
S : Pasien mengatakan rasa gembung agak berkurang
O
: Skala nyeri 4
A
: Masalah belum teratasi
P
: Intervensi dilanjutkan
13.45 WIB
S : Pasien mengatakan tidak ada
selera makan
O : Diet yang dihabiskan ½ porsi
A
: Masalah belum teratasi
P
: Intervensi dilanjutkan
14.00 WIB
S : Pasien mengatakan
penyakitnya memburuk bila ia
mengkomsumsi makanan pedas dan lemak
O
: Ekspresi wajah pasien
tampak tegang, pasien bertanya kapan ia bisa sembuh
A :
Masalah belum teratasi
P :
Intervensi dilanjutkan
17. 00 Wib
S:
Pasien mengatakan masih lemah
O:Masukan oral:1000cc,haluaran
feses: BAB:6x,BAK:5x
A:Masalah belum teratasi
P:Intervensi dilanjutkan
17.30 WIB
S:Pasien mengatakan nyeri berkurang
O:Ekspresi wajah pasien tampak
tenang
A:Masalah sebagian teratasi
P:Intervensi dilanjutkan
20.00 WIB
S:Pasien mengatakan cemas terhadap
penyakitnya
O:Pasien bertanya kemungkinan sembuh
dari penyakinya dan pengobatannya
A:Masalah belum teratasi
P:Intervensi dlanjutkan
22.00 WIB
S:Pasien mengatakan lebih
bersemangat
O:Ekspresi wajah pasien tampak
tenang
A:Masalah sebagian teratasi
P:Intervensi dilanjutkan
23.00
S:Pasien mengatakan nyeri berkurang
O:Ekspresi wajah pasien tampak
tenang
A:Masalah sebagian teratasi
P:Intervensi dilanjutkan
07.15 WIB
S:Pasien mengatakan terasa nyaman
dan nyeri bagian abdomen berkurang.
O:Pasien tampak nyaman, dapat tidur
dengan tenang
A:Masalah sebagian teratasi
P:Intevensi dilanjutkan
08.00 WIB
S:Pasien mengatakan nafsu makan
tidak ada
O:Diet yang disajikan habis ½ porsi,
BB 45 kg
A:Masalah belum teratasi
P:Intervensi dilanjutkan
|
BAB III
PEMBAHASAN
Dalam
bab ini penulis akan membahas kesenjangan – kesenjangan yang dijumpai antara
tinjauan teoritis dengan tinjauan kasus pada pasien atas nama Tn. M dengan
gangguan sistem pencernaan yakni Diare Kronis di RSUP H. Adam Malik Medan yang
proses perawatannya dilakukan selama empat hari yaitu mulai dari tanggal 27 s /
d 30 Januari 2009. Dalam bab ini penulis akan menguraikan setiap tahapan proses
keperawatan mulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, pelaksanaan, dan
evaluasi.
I. Pengkajian
Þ
Pada
tahap pengkajian tidak ditemukan adanya kesulitan karena pasien mau diajak
berkomunikasi dan bersedia memberikan informasi tentang penyakitnya dengan
pendekatan yang penulis lakukan terhadap pasien dan keluarga sehingga tercipta
suatu kerjasama yang baik.
Þ
Pada
data subjektif dan data objektif teoritis ada terdapat nyeri abdomen
dan perut
mulas.
Þ
Pada
kasus ditemukan adanya nyeri pada abdomen yang disebabkan oleh diare.
Þ
Pada
kasus ditemukan adanya gangguan perubahan nutrisi, gangguan keseimbangan
cairan, gangguan rasa nyaman, dan kurangnya pengetahuan.
II.
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa
yang didapat pada teori ada 3 yaitu :
1.
Resiko
terhadap kekurangan volume cairan b/d pembuangan faeses yang sering dan
kurangnya asupan cairan d/d muntah dan berak.
2.
Gangguan
rasa nyaman dan nyeri b/d hiperperistaltik, diare lama, iritasi kulit atau
jaringan d/d nyeri abdomen kolik ( kram / nyeri menyebar ), dan gelisah.
3.
Perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/b gangguan absorbsi nutrisi d/d penurunan
BB, muka pucat, tonus otot buruk.
III. Perencanaan
Pada tahap perencanaan penulis
merencanakan tindakan – tindakan keperawatan sesuai dengan yang tertuang pada
tinjauan teoritis tetapi disesuaikan dengan tinjauan kasus dilapangan.
IV. Pelaksanaan
Pada
tahap pelaksanaan penulis malakukan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana
keperawatan yang telah disusun secara umum, dan dibuat seobtimal mungkin sesuai
dengan keadaan umum pasien sehingga keluhan pasien dapat ditanggulangi
secara dini. Hal ini mendukung
pelaksanaan tindakan keperawatan terhadap pasien dan tidak terlepas dari
perawat ruangan serta tim kesehatan lainnya dan juga kolaborasi dengan dokter.
Diagnosa yang
didapat pada kasus ada 5 yaitu :
1.
Gangguan
keseimbangan cairan b/d diare sekunder, tukak, colitis d/d pasien mengatakan
perutnya mulas, gembung dan nyeri, mata cekung, gelisah, turgor kulit jelek,
mukosa mulut / bibir kering.
2.
Gangguan
rasa nyaman, gembung b/d hiperperistaltik usus d/d pasien mengatakan nyeri
bagian abdomen, gembung, mual, gelisah, konsistensi feses cair.
3.
Gangguan
pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d gangguan absorpsi nutrien d/d elera makan tidak ada, tidak bertenaga, diet
yang disajikan habis ½ porsi, penurunan BAB (+).
4.
Kurangnya
pengetahuan tentang proses penyakitnya b/d kurang informasi d/d pasien selalu bertanya tentang penyakitnya kepada
perawat dan dokter.
Dari diagnosa tersebut ditemukan 3
diagnosa keperawatan yang sama dengan tinjauan teoritis tetapi penyebabnya
berbeda, yaitu :
1.
Gangguan
keseimbangan cairan
2.
Gangguan
rasa nyaman
3.
Gangguan
pemenuhan nutrisi
Dan ada
satu diagnosa yang ditemukan pada tinjauan kasus tetapi tidak ditemukan pada
tinjauan teoritis yaitu kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit b/d kurang
informasi d/d pasien selalu bertanya
tentang penyakitnya kepada perawat dan dokter.
e.
Evaluasi
Pada tahap evaluasi hasil yang didapat pada tinjauan kasus
tidak sama dengan yang didapat pada tinjauan teoritis
BAB
IV
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan
hasil pengamatan asuhan keperawatan pada pasien diare pada bab ini, panulis
akan membuat kesimpulan dan penyampaian saran-saran yang berkaitan dengan kasus
ini.
A. Kesimpulan
1. Diare
adalah suatu keadaan bertambahnya kekerapan dan keenceran buang air besar.
Diare adalah
kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang abnormal lebih dari tiga kali
sehari,serta perubahan dalam isi lebih dari 200 gr / hari dan konsistensinya
cair.
Diare kronik
adalah suatu diare yang berlangsung lebih dari tiga minggu,ini berlaku pada
orang dewasa dan pada bayi dan anak di tetapkan batas waktu dua minggu.
Diare kronik di bagi atas tiga bagian
yaitu :
1.
Diare
osmotik
Adanya
faktor malabsorpsi akibat adanya gangguan absorpsi karbohindrat,lemak atau
protein dan tersering adalah malabsorpsi lemak sehinngga feses berbentuk
steatore.
2.
Diare
sekretorik
Adanya
gangguan transport akibat adanya perbedaan osmotic intralumen dengan mukosa
yang besar sehinnga terjadi penarikan cairan dan elektrolit kedalam lumen usus
dalam jumlah besar.
3.
Diare
inflamasi
Adanya
kerusakan dan kematian enterosit disertai peradangan.
Diare
inflamasi ini terbagi dua yaitu :
- Inflamasi non spesifik
Seperti
: colitis ulseratif dan penyakit crohn.
- Inflamasi spesifik
Seperti
: diare dengan perdarahan.
- Pada tahap pengkajian terhadam Tn. M di temukan masalah yaitu gangguan keseimbangan cairan,gangguan ras nyaman,gangguan pemenuhan nutrisi,kurangnya pengetahuan.
- Pada tinjauan teoritis terdapat 3 diagnosa keperawatan sedangkan pada tinjauan kasus di temukan 4 diagnosa keperawatan.
- Dalam tahap pelaksanaan tindakan keperawatan yang dilakukan yaitu mengatasi nyeri,membantu dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi,mendorong pasien untuk banyak minum maksimal delapan gelas perhari,dan menjelaskan pada pasien tentang penyakitnya.
B. Saran - saran
Dari kesimpulan yang telah
dirumuskan diatas maka penulis akan memberikan beberapa saran – saran sebagai
berikut :
1. Menyampaikan kepada pasien agar mau patuh dan
mau menjalin kerjasama yang baik dengan
perawat dan dokter untuk melaksanakan terapi / pengobatan yang akan diberikan
yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan pasien.
2. Menganjurkan pasien maupun keluarga pasien
tentang cara mengubah posisi yang dapat memberikan rasa nyaman pada pasien.
3. Menganjurkan pasien dan keluarga pasien agar
memberikan makanan / nutrisi yang cukup dan bergizi dan makan secara teratur
serta menghindari makanan yang berlemak dan pedas.
4. Memberikan informasi kepada pasien dan
keluarga tentang penyakitnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Brunner
dan Suddarth, Keperawatan Medikal Bedah,
edisi 8, vol. 2, EGC, Jakarta,
2002
Soeparman
dan Sarwono Waspandji, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid 2, FKUI, Jakarta, 1998
Arif
Mansjoer, Kapita Selekta Kedokteran,
edisi 3, Jilid 1, FKUI, Jakarta,
2001
Drs.
H. Syaifuddin, B. Ac, Anatomi Fisiologi,
edisi 2, EGC, Jakarta, 1997
Marilynn
E. Doenges, Rencana Asuhan Keperawatan,
edisi 3, EGC, Jakarta,
1999
Tidak ada komentar:
Posting Komentar